Jumat, 20 Maret 2009

Birokrasi Max Weber




MaxWeber(1864-1920) ( October 2, 2007 by manusiakamar, www.coretandinding.com)
Birokrasi itu apa ?

* Menurut weber, ini menggambarkan konsep ideal atau bentuk rational penuh dari Organisasi.
* Digunakan untuk menggambarkan basis struktur tentang konsep sosiologi dari rasionalisasi aktivitas Kolektif

Beberapa Ciri utama Birokrasi

1. Adanya pembagian kerja yang jelas : Setiap tugas yang dilaksanakan oleh pekerja secara formal di buat dan dikenal sebagai tugas pokok(Milikmu dan bukan milik orang lain) : Spesialisasi

2. Adanya hirarki Posisi  : setiap posisi bawahan di kontrol dan di awasi oleh atasan. Rantai Perintah

3. Aturan Formal dan Regulasi : mengatur  perilaku pekerja secara samarata. Menjamin kelangsungan dan stabilitas lingkungan kerja. mengurangi ketidakpastian dari Performance kerja.

4. Hubungan yang Impersonal : Para manejer tidak berkepentingan urusan personal karyawan. tidak ada ikatan emotional antara atasan dan bawahan. menjamin kejelasan posisi.

5. Sepenuhnya memperkerjakan karyawan berdasar kompetensi tehnikal : kamu memperoleh kerjaan karena memang kau bisa mengerjakan pekerjaan itu, bukan karena orang yang kau tahu. kriteria seleksi ketat. tak ada pengankatan dan pemberhentian secara suka-suka.

Birokrasi sebagai organisasi dengan ciri-ciri khusus, menjadi pusat perhatian para ahli berbagai disiplin ilmu sosial karena jasa Max Weber. Dalam karyanya The Theory of Economy and Social Organization, Weber mengemukakan konsepnya tentang the ideal type of bureaucracy dengan merumuskan ciri-ciri pokok organisasi birokrasi yang lebih sesuai dengan masyarakat modern(Maret 2, 2008 oleh Pakde sofa),

Selama masa Orde Baru masalah-masalah yang dialami oleh birokrasi di Indonesia antara lain:
* Birokrasi di Indonesia lebih banyak mengatur daripada memberikan pelayanan kepada publik. Karena masih banyak bersikap mengatur, akibatnya kemitraan (parthnership) atau proses kolaborasi antara birokrasi dan masyarakat masih dirasakan belum akrab. Sesuai dengan ramalan Warren Bennis, maka proses kolaborasi itu merupakan ciri yang menonjol dari birokrasi masa depan.
* Birokrasi Indonesia dewasa ini masih terperangkap pada jaringan Parkinsonisme.
* Masalah ketiga adalah masih menonjolnya ego sektoral bagi masing –masing birokrasi departemen.
* Pelaksanaan tiga asas pemerintahan yakni desentralisasi, dekonsentrasi dan medebewind dalam birokrasi pemerintahan kita belum profesional. Pada intinya sistem pemerintahan ini mengikuti sistem desentralisasi. Akan tetapi pelaksanaannya lebih didominasi oleh pelaksanaan asas dekonsentrasi.
* Birokrasi saat orde baru menempatkan pengembangan karir jabatan pegawai pemerintah lebih ditekankan pada hirarki atas.
* Sentralisasi yang amat kuat
* Menilai tinggi keseragaman dalam struktur organisasi
* Pendelegasian wewenang yang kabur dalam manajemen
* Kesulitan dalam menyusun uraian tugas dan analisis jabatan yang semata-mata bersifat teknis
* Kegagalan dalam upaya menerapkan organisasi matriks
* Perkembangan profesionalisme berdasarkan spesialisasi dalam organisasi yang masih sulit.
* Weberisasi adalah program untuk mengarahkan birokrasi sehingga menjadi alat pembangunan yang bekerja secara efisien, rasional, profesional dan berorientasi melayani masyarakat (public service).
* Parkinsonisasi merupakan kebijakan menata birokrasi dengan memperbesar sosok kuantitatif birokrasi.
* Orwellisasi ditunjukkan untuk mendukung pembesaran sosok negara vis a vis masyarakat, dan pada gilirannya dapat meningkatkan kapabilitas regulatif negara.
* Jaksonisasi Istilah ini dikenal untuk konteks Indonesia. Jaksonisasi adalah upaya untuk menjadi birokrasi sebagai akumulasi kekuasaan negara dan menyingkirkan masyarakat dari ruang politik dan pemerintahan sehingga terbentuk apa yang disebut oleh Karl D. Jackson (1980) sebagai bureaucraty polity.
* Strategi inti, yaitu strategi yang mempunyai tujuan jelas dan
berhubungan dengan fungsi utama pemerintah, yaitu pengendalian.
* Strategi konsekuensi, yaitu strategi yang memaksa para pegawainya
untuk mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan.
* Strategi pelanggan, yaitu strategi yang mengutamakan pertanggungjawaban birokrasi.
* Strategi pengawasan, yaitu strategi yang menempatkan kekuasaan/ wewenang untuk membuat keputusan, yang pada umumnya kekuasaan tersebut selalu berhubungan dengan puncak hirarki. Strategi ini mendorong kekuasaan pembuat keputusan secara signifikan diturunkan berdasarkan prinsip hirarki yang pada akhirnya akan sampai kepada masyarakat.
* Strategi kebudayaan, yaitu strategi yang dipengaruhi keempat strategi di atas yang berarti dengan mengubah keempat strategi itu maka budaya akan berubah pula.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda